Apa yang akan terjadi kalo semua anak muda, penerus bangsa negeri ini hobinya sama budaya yang memperdengarkan musik "jedag...jedug...sedang sibuk...sedang sibuk" doang?? Miris banget kan...
Sekarang makin banyak tempat hiburan yang menyuguhkan musik ala Barat, yang notabene banyak juga menyerap tenaga kerja kita juga. Dan bisa dipastikan saat weekend atau ladies night, malahan bisa dipastikan setiap hari, 7 hari seminggu tempat hiburan "ajeb-ajeb" itu penuh sesak oleh pengunjung. Harga minuman" yang bermerk mahal pun tetap banyak yang pesan tuh.
Tetapi pada sadar gak yah...budaya warisan negara kita tercinta, mulai turun ke jalanan karena berkurang peminatnya, khususnya anak muda yang katanya penerus bangsa.
Hari ini aku menyusuri jalanan di Jogja, coz ada keperluan untuk bertemu beberapa klien. Salah satunya di daerah Ruko Casagrande. Saat di per4an Condongcatur, aku berhenti karena traffic light bernyala merah dengan count down yang mati (perasaan hampir semua layar count down dipersimpangan jalan di Jogja mati, sayang banget!).
Seperti dikomando, tiga pria berkostum penari daerah, berjejer di area zebra cross. Muka mereka masing-masing di make-up sedemikian rupa. Setelah meletakkan botol minumal mineral yang sudah mereka modifikasi, serentak mereka menari dengan diiringi musik dari alat musik tradisional yang di bunyikan oleh seorang rekan mereka yang duduk di bawah terik matahari dengan dandanan dan kostum serupa.
Beberapa saat kemudian musik berhenti, tiga penari pria itu berjalan di antara kendaraan yang berhenti untuk meminta rupiah seikhlasnya dari para pemakai jalan. Botol air mineral mereka gunakan sebagai wadah uang untuk upah mereka beraksi di bawah terik matahari.
Terus terang saja, aku gak beri mereka uang atas hiburan itu karena mereka gak lewat di tempat aku berhenti. Memang sedikit dilema, antara sedang buru-buru klo lampu bernyala hijau dan aku bawa ransel yang lumayan ribet kalo ambil beberapa rupiah dari ransel padahal aku ingin memberi.
Saat mereka menari, yang ada dalam pikiranku sedih, miris, marah dan pertanyaan "koq bisa?" pun melayang-layang di kepalaku. Kenapa mereka tidak menggelar pertunjukkan di dalam ruangan ber-AC seperti tempat hiburan "ajeb-ajeb" yang mulai menjamur di Jogja, kenapa tidak ada pengunjung berpakaian rapi seperti pengunjung sebuah orkestra, mengapa tidak ada tepuk tangan meriah seperti band luar negri menyambangi negri ini saat konser. Kontras banget semuanya itu.
Sekarang di beberapa persimpangan jalan di Jogja seperti di per4an Janti dan per4an Condongcatur, ditemukan seniman jalanan yang mencari sesuap nasi di bawah terik matahari, apalagi sekarang hujan masih hobi mengguyur Jogja.
Apakah sebegitu aus kah rasa nasionalisme kita akan budaya kita sendiri?? Tau kan video klip band D'Masiv yang judulnya JanganMenyerah? Itu juga salah satu gambaran budaya kita sekarang. Aku memang gak bisa sepenuhnya memberi kontribusi untuk menyelamatkan budaya kita yang hidup di jalanan. Artikel kecil ini yang hanya dapat aku tulis untuk menyampaikan jeritan para seniman jalanan kita. Dan yang pasti aku akan lebih menghormati mereka saat mereka beraksi di jalanan.
Ayo...selamatkan budaya kita dari jalanan...!!!
justru jalanan adalah panggung budaya tanpa batas matras yang menarik lussy. mereka bisa diliat sama siapapun, kapanpun, menyatu dengan sosialitas sekitar... aq jadi inget sama seni jalanan yang marak di spanyol atau perancis di musim panas, keren banged kalo bisa ngeliat yang seperti itu di indonesia ...
BalasHapus